Orang tua dengan Narsistic personality disorder
Orang
tua merupakan sarana pembelajaran pertama bagi anak. Manusia pertama yang
mengulurkan tangannya saat mereka hadir di dunia. Manusia pertama yang menjadi
objek pembelajaran anak saat pertama kali dilahirkan di dunia. Manusia pertama
yang akan mengajarkan mereka tentang kehidupan serta sarana dalam pembentukan
perilaku pada anak itu sendiri.
Setiap orang tua memiliki pola asuh
yang berbeda-beda, dan pola asuh sendiri dikategorikan menjadi beberapa jenis.
Perilaku anak terbentuk berdasarkan pola asuh yang dimiliki orang tuanya.
Setiap pola asuh memiliki ciri khas tersendiri, serta memiliki dampak positif
serta negatif terhadap pembentukan perilaku anak.
Banyak hal yang memengaruhi orang
tua dalam menerapkan pola asuh di keluarganya. Beberapa pola asuh juga
cenderung diturunkan secara turun temurun. Beberapa orang tua biasanya
melakukan copy mekanism berdasarkan pola asuh yang mereka dapatkan
sewaktu kecil dan menerapkannya kembali saat menjadi orang tua.
Pola asuh sangat penting dalam suatu
keluarga karena secara harfiah memengaruhi pembentukan perilaku pada anak.
Namun tidak semua keluarga menyadari akan hal itu. Ada banyak faktor pula yang
mempengaruhi orang tua dalam pemilihan pola asuh yang mereka digunakan, diantarany
faktor lingkungan, pendidikan maupun kepribadian orang tua itu sendiri.
Salah satu kepribadian yang dapat
memengaruhi pola asuh orang tua yaitu NPD ( Narsistic personality disorder
). Narsistic personality disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian
dimana seseorang memiliki pola yang menetap berupa rasa diri yang sangat tinggi
( merasa paling penting ), kebutuhan berlebihan untuk dikagumi, dan kurangnya
empati terhadap orang lain. Apakah Narsistic personality disorder mempengaruhi
pola asuh seseorang saat menjadi orang tua dan apa dampaknya bagi anak?
Menurut Rahma dan Hamzanwadi (2025),
ditemukan bahwa orang tua dengan traits narsistik cenderung menerapkan pola
asuh otoriter, kurang empati dan menjadikan anak sebagai perpanjangan ego
mereka (self objectification). Hasil analisis menunjukan bahwa anak yang
memiliki ibu dengan Narsistic personality disorder beresiko tinggi mengalami
disregulasi emosi, rendahnya harga diri (Low self-esteem), kecemasan
kronis dan kesulitan dalam membentuk relasi interpersonal yang sehat dimasa
dewasa. Ketidakmampuan orang tua dengan Narsistic personality disorder
memberikan validasi emosi dapat menghambat proses individuasi separasi pada
anak. Diperlukannya intervensi psikologis untuk memutus rantai trauma antargenerasi
akibat pola asuh narsistik.
Menurut Putri dan Kumaini (2025), mengungkapkan bahwa
anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan narsistik beresiko mengalami
kerusakan pada perkembangan emosional, sosia serta kognitif mereka. Refleksi diri
dapat dijadikan solusi bagi orang tua dengan kecenderungan narsistik, membantu
mereka menjadi pribadi yang lebih sadar, bertanggung jawab dan hadir secara
emosional.
Sejalan dengan dua peneliti sebelumnya, pola asuh yang
diberikan oleh orang tua dengan Narsistic personality disorder dapat
memengaruhi perkembangan emosional, sosial dan kognitif anak pada usia dini. Anak
yang dibesarkan dengan lingkungan ini juga mengalami masalah dalam perkembangan
emosional dan sosial, termasuk rendahnya harga diri, kesulitan dalam
berinteraksi dengan orang lain serta masalah dalam membangun identitas diri
yang sehat (Amelia, 2025).
Dapat ditarik kesimpulan, diperlukannya intervensi dan
refleksi diri pada orang tua dengan Narsistic personality disorder untuk
membantu mereka menjadi pribadi yang lebih sadar, bertanggung jawab dan hadir secara emosional
serta untuk memutus rantai trauma antar generasi yang disebabkan polah asuh
dengan narsistik.
Komentar
Posting Komentar