Kaki gajah (Lymphatic filariasis)
Kaki gajah (Lymphatic filariasis) merupakan salah satu penyakit tropis penyebab utama kecacatan diseluruh dunia, menurut centers for disease control and prevention, AS. Penyakit ini setidaknya mempengaruhi 120 juta orang diseluruh dunia.
Filariasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing filaria. Penyakit ini dapat menyerang hewan maupun manusia. Terdapat ratusan jenis parasit filaria, namun hanya ada 8 spesies yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia.
Jenis-jenis filariasis ada 3 dan pada umumnya dikategorikan menurut lokasi habitat cacing dewasa dalam tubuh manusia. Adapun ketiga jenis filariasis tersebut antara lain filariasis kulit, limfatik dan rongga tubuh.
Dan tulisan saya kali ini akan lebih condong membahas filariasis limfatik. Parasit yang bisa menyebabkan filariasis jenis ini antara lain wuchereria bancrotti, brugia malayi dan brugia timori. Namun diantara ketiga jenis parasit ini wuchereria bancrotti lah yang paling sering menyerang manusia. Dan diperkirakan 9 dari 10 penderita filariasis limfatik disebabkan oleh parasit ini, dan sisanya biasanya disebabkan oleh brugia malayi.
Parasit malaria masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan vektor (perantara) yang telah terinfeksi parasit ini. Adapun vektor (perantara) penyakit ini ialah nyamuk culex. Parasit tersebut akan tumbuh dewasa dan bertahan hidup selama kurang lebih 6-8 tahun dan terus berkembang biak dalam jaringan limfa manusia.
Infeksi ini umumnya dialami sejak masa kanak-kanak dan menyebabkan kerusakan pada sistem limfatik yang tidak disadari sampai akhirnya terjadi pembengkakan yang cukup parah dan menyakitkan. Dan pembengkakan tersebut juga dapat menyebabkan cacat permanen jika tidak segera ditangani.
Gejala
Sebagian besar infeksi filariasis limfatik terjadi tanpa menunjukkan gejala apapun. Namun infeksi ini tetap dapat Menyebabkan kerusakan pada jaringan limfa dan ginjal sekaligus mempengaruhi kekebalan tubuh penderita.
Namun pada filariasis limfatik akut, biasanya penderita akan mengalami gej khusus. Ada 2 jenis filariasis limfatik akut antara lain adenolimfangitis akut (ADL) dan limfangitis filaria aku (AFL). Masing-masing dari kedua jenis filariasi limfatik akut ini memiliki gejala yang sedikit berbeda. Dimana pada penderita adenolimfangitis akut (ADL) penderita biasanya akan mengalami demam, pembengkakan limfa atau kelenjar getah bening (limfa denopati), sakit, kemerahan dan bengkak pada bagian tubuh yang terinfeksi.
ADL dapat kambuh lebih dari satu kali dalam setahun, terutama pada musim hujan. Cairan yang menumpuk dapat memicu infeksi jamur dan merusak kulit penderita. Semakin sering kambuh maka pembengkakan akan semakin parah.
Sedangkan pada limfangitis filaria akut (AFL) biasanya penderita tidak mengalami gejala demam ataupun infeksi lain. Namun AFL dapat memicu gejala berupa munculnya benjolan-benjolan pada bagian tubuh tempat cacing (parasit malaria) berkumpul. Misalnya pada sistem getah bening.
Berbeda pada kasus filariasis limfatik akut, pada filariasis limfatik kronis penderita biasanya menunjukkan gejala pembengkakan pada kaki dan lengan yang disebabkan karena penumpukan cairan atau limfedema dan berujung pada kerusakan dan penebalan lapisan kulit. Kondisi ini disebut dengan elefantiasis.
Proses diagnosis
Diagnosis dapat dilakukan melalui tes darah dan tes urine. Dan biasanya dilakukan pada malam hari sat parasit aktif. Jika positif terdiagnosis, dokter biasanya akan memberikan obat-obatan anti filaria untuk menangani filariasis limfatik.
Komentar
Posting Komentar